Hanya berbaring yang bisa kulakukan diatas kasur rumah sakit ini yang tidaklah empuk. Tanganku tak bisa lagi menuliskan rangkaian syair indah dan lidahku juga tak kuasa untuk melantunkannya. Hanya kaki kananku yang masih bisa ku gerakkan sebagai pemberi isyarat pada orang-orang selama lidahku enggan berucap. Disaat seperti ini yang kurasakan hanyalah penyesalan, mengapa Tuhan tidak langsung saja memanggilku. Air mataku bahkan sudah kering menyesali kehidupan yang tak berarti seperti ini. Ibu yang sejak tadi berada disampingku terus saja meneteskan air matanya ketika bibirnya menceritakan kenangan-kenangan masa kecil anak lelaki satu-satunya ini. Ia tak henti menangis meskipun sudah tak mengenang lagi. “ibu ingat ketika kamu berumur 2 tahun, ketika kamu sudah mulai bisa berbicara!” bibirnya berusaha tersenyum disela tangis. “kamu meminta sepeda roda tiga namun karena ibu tak











